Rabun Dekat atau Hypermetropia
Kecenderungan khalayak umum berpandangan bilamana ukuran
kacamata/lensa kontak +( baca plus) merupakan identifikasi bahwa hanya
terjadi pada orang-orang lanjut usia. Minimnya informasi dan penyebaran
pengetahuan baik di kalangan praktisi kepada para pasien atau antar
pasien sendiri telah membuat cara berpikir bila ukuran + sama dengan
orang tua. Pada pelajaran di sekolah mengenai fisika optik, kita akan
menemui sub pokok bahasan mengenai mata rabun dekat atau hypermetropia.
Penjelasan secara umum adalah sebuah kondisi dimana sinar yang masuk ke
mata sejajar sumbu utama tidak jatuh tepat di retina melainkan
dibelakang retina. Bagaimana penjelasan secara ilmiah sesuai kesepakatan
yang telah disepakati di kalangan praktisi kesehatan mata.
Hypermetropia atau hyperopia adalah sebuah keadaan dimana bentuk bola
mata lebih pendek dari normal atau lensa mata yang tidak cukup bulat,
sehingga akan mengakibatkan kesulitan dalam upaya pemfokusan obyek yang
berada pada jarak dekat. Pada kasus tertentu dapat mengakibatkan
ketidakmampuan mata dalam mengidentifikasi obyek pada jarak jauh juga.
Ketika obyek mendekat ke arah mata, maka indera penglihatan perlu
berupaya untuk menambahkan kekuatannya dalam menjaga agar obyek dapt
diproyeksi oleh retina. Jika kekuatan yang dihasilkan oleh bagian mata
seperti kornea dan lensa kurang atau bahkan tidak mencukupi, maka
bayangan obyek yang terproyeksi oleh retina akan nampak kabur.
Keadaan ini juga tergolong dalam klasifikasi kelainan refraksi
(kelainan kemampuan pembiasan) yang menjadi bagian penanganan kesehatan
mata. Penyandang kelainan refraksi hypermetropia sering mengalami
penglihatan yang kabur, mata lelah, kesulitan(disfungsi) akomodasi,
Kesulitan binokuler ( penglihatan dengan 2 mata ), mata malas ( baca
amblyopia ) dan strabismus atau mata juling. Sebagaimana diterangkan di
atas, rabun dekat sulit dibedakan dengan presbyopia ( =mata tua )
menurut asumsi khalayak umum. Meski keduanya juga memiliki keluhan yang
sama, yaitu mengalami kesulitan dalam melihat obyek berjarak dekat.
Faktanya, presbyopia adalah keadaan dapat melihat obyek jauh ( pada
umumnya ) tetapi mengalami kesulitan melihat dekat dikarenakan amplitudo
akomodasi menurun. Situasi ini dipicu oleh perubahan alami berkaitan
dengan usia seseorang pada media lensa mata. Di samping itu, para ahli
sepakat bahwa keadaa presbyopia umumnya dimulai saat seseorang berusia
40 tahun. Walau tidak sedikit kasus presbyopia terjadi lebih
cepat/lambat berkisar antara 1-5 tahun sebelum atau sesudah usia 40
tahun tersebut. Selain itu, penyandang rabun dekat dapat juga mengalami
presbyopia bila ia sudah menginjak usia yang tersebut di atas.
Penyebab hyperopia biasanya genetis , sebagaimana kondisi bola mata
yang agak pendek dan atau kornea agak datar. Namun ini juga dapat
terjadi pada orang-orang pasca operasi katarak( baca kekeruhan lensa
mata ) di usia dini. Secara garis besar, mereka mengalami kendala saat
melihat obyek pada jarak dekat. Kisaran dekat sendiri masih dapa t
diperdebatkan, namun kebanyakan para ahli menyetujui antara 30 cm- 70cm.
Klasifikasi hyperopia secara klinis terbagi atas 3 hal,yakni :
1. Hyperopia Simple
2. Hyperopia Patologi
3. Hyperopia fungsional
Penjelasan mengenai ketiga hal tersebut akan kami sajikan pada
artikel berikutnya. Beberapa literatur juga mengelompokkan hypermetropia
atas beberapa hal seperti hypermetropia manifest, absolut, laten, dll.
Dalam mengenali dan menyimpulkan rabun dekat, praktisi akan melakukan
tes tajam (=kemampuan ) penglihatan. Setiap praktisi memiliki cara dan
metode yang mungkin saja berbeda. Penulis akan coba kupas masalah ini
pada artikel selanjutnya.
Kebanyakan praktisi akan menyarankan para penyandang kelainan
refraksi untuk menggunakan kacamata atau lensa kontak dengan ukuran
plus. Khusus Lensa kontak dengan ukuran plus amat jarang ditemui. Bahkan
untuk merk tertentu harus dipesan lebih dari 1 minggu yang dikarenakan
proses pembuatan tidak dilakukan di indonesia. Lensa plus berfungsi
untuk mendekatkan proyeksi obyek agar tepat jatuh di retina.Kemajuan
teknologi juga menawarkan operasi laser ( baca LASIK ) sebagai salah
satu penanganan rabun dekat.
Jangan berasumsi mata berukuran plus milik para lanjut usia. Mari
kita benahi dan memperdalam pengetahuan, serta cara penyampaian
informasi. Agar suatu hari kelak, kesalahpahaman ini dapat di
minimalisir. Sehingga tatanan kesadaran kesehatan mata terbentuk secara
madani. Bukan hanya praktisi yang memperoleh manfaatnya, tetapi juga
anak-cucu kita. Moga artikel ini bermanfaat bagi anda semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar