Minggu, 25 April 2021

Rabun Dekat atau Hypermetropia


 Rabun Dekat atau Hypermetropia 


Kecenderungan khalayak umum berpandangan bilamana ukuran kacamata/lensa kontak +( baca plus) merupakan identifikasi bahwa hanya terjadi pada orang-orang lanjut usia. Minimnya informasi dan penyebaran pengetahuan baik di kalangan praktisi kepada para pasien atau antar pasien sendiri telah membuat cara berpikir bila ukuran + sama dengan orang tua. Pada pelajaran di sekolah mengenai fisika optik, kita akan menemui sub pokok bahasan mengenai mata rabun dekat atau hypermetropia. Penjelasan secara umum adalah sebuah kondisi dimana sinar yang masuk ke mata sejajar sumbu utama tidak jatuh tepat di retina melainkan dibelakang retina. Bagaimana penjelasan secara ilmiah sesuai kesepakatan yang telah disepakati di kalangan praktisi kesehatan mata.
Hypermetropia atau hyperopia adalah sebuah keadaan dimana bentuk bola mata lebih pendek dari normal atau lensa mata yang tidak cukup bulat, sehingga akan mengakibatkan kesulitan dalam upaya pemfokusan obyek yang berada pada jarak dekat. Pada kasus tertentu dapat mengakibatkan ketidakmampuan mata dalam mengidentifikasi obyek pada jarak jauh juga. Ketika obyek mendekat ke arah mata, maka indera penglihatan perlu berupaya untuk menambahkan kekuatannya dalam menjaga agar obyek dapt diproyeksi oleh retina. Jika kekuatan yang dihasilkan oleh bagian mata seperti kornea dan lensa kurang atau bahkan tidak mencukupi, maka bayangan obyek yang terproyeksi oleh retina akan nampak kabur.
Keadaan ini juga tergolong dalam klasifikasi kelainan refraksi (kelainan kemampuan pembiasan) yang menjadi bagian penanganan kesehatan mata. Penyandang kelainan refraksi hypermetropia sering mengalami penglihatan yang kabur, mata lelah, kesulitan(disfungsi) akomodasi, Kesulitan binokuler ( penglihatan dengan 2 mata ), mata malas ( baca amblyopia ) dan strabismus atau mata juling. Sebagaimana diterangkan di atas, rabun dekat sulit dibedakan dengan presbyopia ( =mata tua ) menurut asumsi khalayak umum. Meski keduanya juga memiliki keluhan yang sama, yaitu mengalami kesulitan dalam melihat obyek berjarak dekat. Faktanya, presbyopia adalah keadaan dapat melihat obyek jauh ( pada umumnya ) tetapi mengalami kesulitan melihat dekat dikarenakan amplitudo akomodasi menurun. Situasi ini dipicu oleh perubahan alami berkaitan dengan usia seseorang pada media lensa mata. Di samping itu, para ahli sepakat bahwa keadaa presbyopia umumnya dimulai saat seseorang berusia 40 tahun. Walau tidak sedikit kasus presbyopia terjadi lebih cepat/lambat berkisar antara 1-5 tahun sebelum atau sesudah usia 40 tahun tersebut. Selain itu, penyandang rabun dekat dapat juga mengalami presbyopia bila ia sudah menginjak usia yang tersebut di atas.
Penyebab hyperopia biasanya genetis , sebagaimana kondisi bola mata yang agak pendek dan atau kornea agak datar. Namun ini juga dapat terjadi pada orang-orang pasca operasi katarak( baca kekeruhan lensa mata ) di usia dini. Secara garis besar, mereka mengalami kendala saat melihat obyek pada jarak dekat. Kisaran dekat sendiri masih dapa t diperdebatkan, namun kebanyakan para ahli menyetujui antara 30 cm- 70cm.
Klasifikasi hyperopia secara klinis terbagi atas 3 hal,yakni :
1. Hyperopia Simple
2. Hyperopia Patologi
3. Hyperopia fungsional
Penjelasan mengenai ketiga hal tersebut akan kami sajikan pada artikel berikutnya. Beberapa literatur juga mengelompokkan hypermetropia atas beberapa hal seperti hypermetropia manifest, absolut, laten, dll. Dalam mengenali dan menyimpulkan rabun dekat, praktisi akan melakukan tes tajam (=kemampuan ) penglihatan. Setiap praktisi memiliki cara dan metode yang mungkin saja berbeda. Penulis akan coba kupas masalah ini pada artikel selanjutnya.
Kebanyakan praktisi akan menyarankan para penyandang kelainan refraksi untuk menggunakan kacamata atau lensa kontak dengan ukuran plus. Khusus Lensa kontak dengan ukuran plus amat jarang ditemui. Bahkan untuk merk tertentu harus dipesan lebih dari 1 minggu yang dikarenakan proses pembuatan tidak dilakukan di indonesia. Lensa plus berfungsi untuk mendekatkan proyeksi obyek agar tepat jatuh di retina.Kemajuan teknologi juga menawarkan operasi laser ( baca LASIK ) sebagai salah satu penanganan rabun dekat.
Jangan berasumsi mata berukuran plus milik para lanjut usia. Mari kita benahi dan memperdalam pengetahuan, serta cara penyampaian informasi. Agar suatu hari kelak, kesalahpahaman ini dapat di minimalisir. Sehingga tatanan kesadaran kesehatan mata terbentuk secara madani. Bukan hanya praktisi yang memperoleh manfaatnya, tetapi juga anak-cucu kita. Moga artikel ini bermanfaat bagi anda semua.

Lensa Kontak Orthokeratologi

Orthokeratologi / Ortho-K merupakan suatau prosedur pemakain lensa kontak yang bertujuan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kelainan refraksi dengan cara mengubah bentuk kornea mata.
Metode ini sudah diperkenalkan sejak tahun 1960-an dan terus mengalami perkembangan sampai saat ini, hanya saja di Indonesia metode ini jarang diterapkan, sehingga wajar kalau kita juga jarang atau bahkan belum pernah mendengarnya.
Ooo..jadi metode ini menggunkan lensa kontak to?? Pasti muncul banyak pertanyaan di benak rekan-rekan misalnya indikasi dan kontra indikasinya? Lensa kontak seperti apakah yang di gunakan dalam metode ini?? Bagaimana fittingnya?? Bagaimana cara kerjanya …dsb…dsb..
Nah, mari kita lihat satu
online pharmacy cialis
persatu jawaban akan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
1. Indikasi dan Kontra indikasi
  • Indikasi                                                                                                                              Metode ini sangat cocok diterapkan pada mereka yang memiliki myopia rendah sampai sedang yaitu -1.00 s.d -6.00D, astigmat rendah kurang dari -2.00D dan cocok juga untuk anak-anak serta remaja dimana metode ini berfungsi sebagai Myopia control.
  • Kontra Indikasi
Orang dengan infeksi dan inflamasi pada segmen anterior mata. Mereka yang memiliki penyakit mata yang dapat mempengaruhi kornea, konjungtiva dan kelopak mata. Mereka yang memiliki mata kering. Mereka yang memiliki corneal hypoesthesia / penurunan sensitivitas kornea.
2. Cara Kerja Lensa Kontak Orthokeratologi
Desain lensa orthokeratologi dikenal dengan nama ”reverse geometri / reverse zone” dimana fitting lensanya adalah flat pada bagian sentralnya. Fitting ini bertujuan untuk menghasilkan tekanan pada sentral kornea sehingga dapat membentuk kembali atau meredistribusi lapisan kornea. Lensa kontak tersebut akan menghasilkan perubahan pada kelengkungan kornea bagian anterior. Perubahan ini terjadi karena adanya penipisan pada epitel sentral kornea dan penebalan pada storma midpheriper. Ini akan menghasilkan pengurangan pada sagital kornea dan terjadilah pengurangan pada power myopia-nya. Pada orthokeratologi tidak terjadi perubahan kelengkungan kornea posterior. Besarnya lapisan kornea yang mengalami perubahan dapat dihitung dengann menggunakan formula Munnerlyn’s seperti berikut:
S = td² X D/3
Dimana:
S          : perubahan sagita kornea (micron)
td²        : diameter zona treatment (mm)
D         : perubahan refraksi yang diinginkan.
3.  Jenis Lensa Kontak Dalam Orthokeratologi
Lensa kontak Orthokeratologi memiliki dua jenis yaitu Daywear Orthokeratologi dan Nightwear Orthokeratologi. Berikut penjelasannya
a. Daywear Orthokeratologi
Lensa kontak ini dipakai pertama kali saat metode ini baru diperkenalkan.
Pemakaiannya sama seperti lensa kontak pada umumnya yaitu pada siang hari, hanya saja desain lensanya yang berbeda yaitu spheris, aspheris dan reverse geometri komplek.
  • Keuntungan Daywear Orthokeratologi
-         Nyaman dan mudah dalam penggunaan
-         Cocok untuk mereka yang menginginkan perbaikan tajam penglihatan     tanpa koreksi hanya untuk beberapa jam saja misalnya saat berolahraga atau saat melakukan kegiatan sehari-hari pada malam hari
-         Tingkat keamanan tinggi
  • Kerugian Daywear Orthokeratologi
-         penurunan kelainan refraksi lebih lama dibandingkan dengan yang nightwear orthokeratologi
-         hasilnya tidak seefektif nightwear, karena lensa ini hanya memberikan perbaikan tajam penglihatan tanpa koreksi pada penderita myopia dibawah -2.00D
-         Jika pada saat pemakaian sering terjadi desentrasi maka pasien akan mengalami flare atau ghosting
-         Kesulitan sentrasi lensa yang mempengaruhi kecepatan penurunan refraksi
b.    Nightwear  Orthokeratologi
Desain lensa yang digunakan adalah reverse geomatri. Lensa kontaknya dipakai pada malam hari yaitu pada saat tidur.
  • Keuntungan Nightwear Orthokeratologi
-         Pasien dapat menggunakan matanya seharian tanpa koreksi lensa kontak atau kacamata.
-         Lensa hanya digunakan pada malam hari terutama saat tidur sehingga tidak terpengaruh oleh kondisi lingkungan seperti debu, angin, sinar matahari dan udara kering.
-         Proses penurunan kelainan refraksinya cepat dan aman.
-         Terapi ini mudah dilakukan dengan hasil yang lebih efektif dan efisien dibandingakn dengan lensa daywear.
-         Dapat dipakai pada anak-anak dengan tingkat komplikasi rendah.
  • Kerugian Nightwear Orthokeratologi
-         Pada beberapa kasus bentuk kornea, struktur kelopak mata dan kebiasaan tidur menyebabkan sentrasi lensa kurang baik. Ini akan menimbulkan flare atau ghosting saat lensa dilepas.
-         Lensa dapat menempel pada kornea karena desain lensanya dibuat tidak bergerak sehingga akan menimbulkan kesulitan saat akan melepas lensa kontak keesokan harinya.
-         Nightwear mempunyai sistem semi-statik (bentuk tidak bergerak sehingga memerlukan bahan dengan Dk tinggi tidak boleh kurang dari 60.
4. Bahan Lensa Kontak Orthokeratologi
Pada saat metode ini pertama kali diperkenalkan bahan yang digunakan adalah:
  • PMMA (polymethilmetaacrylate) dengan spesifikasi sebagai berikut:
-         dapat dimodifikasi dan dipoles
-         pemeliharaannya mudah tidak perlu direndam dalam larutan
-         kaku/ keras
-         daya pembasahan kurang
-         mengandung 0.5% air ketika dibahasi
-         Dk hampir 0
-         sudut kontak 60°-70°
-         menyebabkan spectacle blur
-         menyebabkan polymegatism (perubahan pada sel endotel kornea)
-         menyebabkan hypoxia
Karena banyak menimbulkan komplikasi maka kemudian bahan ini diganti dengan bahan lain.
  • RGP (rigid gas permeable)
Bahan RGP yang digunakan dalam orthokeratologi memilik Dk yang tinggi untuk menghindari komplikasi pada mata pemakai. Bahan RGP yang memiliki Dk yang tinggi seperti:
1. Flour Siloxane Acrylate (FSA) dengan karekteristi sbb:
-         Dknya tinggi sekitar 400-100
-         Daya tahan terhadap deposit tinggi
-         Mudah tergores
2. Perflouroether merupakan gabungan dari flouanne, oksigen, karbon,   hydrogen dengan karakteristi sbb:
-         Dk lebih dari 90
-         Dapat digunakan untuk extended wear
-         Sangat lentur
-         Muatan ion pada permukaannya netral
-         Indeks bias rendah
-         Biaya pembuatan tinggi
-         Lensa lentur sehingga mengurangi daya koreksi

Desain Lensa Kontak Orthokeratologi

Lensa kontak orthokeratologi memiliki desain yang dikenal dengan “reverse geometri / reverse zone”. Desain ini dikembangkan pada tahun 1980-an oleh Dr. Richard Wlodyga dan dibuat oleh Mr. Nick Stoyan. Pada saat ini banyak sekali pabrik lensa kontak yang membuat lensa kontak orthokeratologi dengan desain dan merk yang berbeda-beda tetapi pada dasarnya semuanya adalah variasi dari desain “reverse geometri”.

Disini saya akan menulis desain lensa kontak orthokeratologi secara umum, tidak menggunakan desain dari merk tertentu.
Desain lensa kontak orthokeratologi tidak sama dengan desain lensa kontak RGP pada umumnya yaitu multicurve dimana steep pada bagian sentral dan semakin flat mendekati peripher.
Desain lensa kontak orthokeratologi dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Desain Lensa Reverse Geometry
Dari gambar tersebut dapat dilihat desain lensa kontak orthokeratologi terdiri dari
  1. a. dan 2. a. Base curve/ apical zone
1. b. dan 2. b. Reverse curve
  1. c. dan 2. c. Peripher curve
Lensa reverse geometri dibuat dengan kedua curve (reverse curve dan alignment curve) lebih steep dari pada base curvenya, dengan tujuan :
  1. untuk menunjukan ruang gerak kornea bila pusat kornea sudah menjadi flat.
  2. untuk membantu sentrasi lensa
  3. untuk membantu sirkulasi air mata
Berikut penjelasan masing-masing bagian dari desain lensa kontak orthokeratologi
1. Base Curve
Daerah base curve diharapkan dapat menimbulkan perubahan pada kornea yaitu membuat kornea menjadi lebih flat dari sebelumnya, karena base curve ini merupakan daerah yang bersentuhan langsung dengan sentral kornea. Oleh karena itu base curve harus dapat menahan pertumbuhan kornea yang akan berakibat semakin tingginya power myopia. Biasanya radius base curve lebih flat dari pada flat K hasil keratometry kornea pasien, dengan nilai 0.50D- 0.75D lebih besar dari perubahan refraksi yang diinginkan. Misalnya pasien dengan kelainan refraksi myopia -3.00D base curve yang dipilih adalah 3.50D – 3.75D flatter than K, hasil power lensa akan menjadi +0.50D – +0.75D ( untuk penghitungan yang lebih mendetail dan lebih jelas akan dibahas sesion berikutnya yah… di Fitting Lensa Kontak Orthokeratologi..)
Untuk diameter base curve lensa kontak orthokeratologi berbeda-beda antara merk yang satu dengan yang lain tetapi biasanya diameter yang digunakan adalah 6.0mm.
2. Reverse Curve
Reverse curve mempunyai dua fungsi penting, pertama bagian ini merupakan penghubung antara base curve dan alignment curve tanpa mengganggu fungsi dari base curve. Fungsi kedua yaitu melalui reverse curve ini epitel pusat kornea dibentuk kembali. Reverse curve mempunyai ukuran dan kedalam yang berbeda-beda antara merk yang satu dengan yang lain tetapi yang terpenting adalah reverse curve harus lebih steep dari base curve.
3. Alignment Curve
Bagian ini merupakan bagian yang menghubungkan antara Reverse Curve dan Peripher Curve. Alignment curve berfungsi menahan lensa agar tetap di sentral kornea selain itu bagian ini juga berfungsi untuk mengontrol pergerakan dan posisi lensa. Perubahan pada bagian ini meskipun kecil akan berpengaruruh besar terhadap sentrasi lensa yang dapat mempengaruhi hasil dari terapi orthokeratologi.
4. Peripher Curve
Peripher curve pada lensa reverse geometri dibuat dengan tujuan yang sama seperti pada desain lensa RGP standar yaitu untuk membantu sirkulasi air mata. Peripher curve ini biasanya memiliki lebar 0.4mm dengan radius kira-kira 10.00mm s.d 12.00mm.
Tetapi
generic cialis
ada desain lensa orthokeratologi yang sedikit berbeda dengan desain reverse geometri. Lensa ini dibuat oleh Paragon Vision Sciences dimana reverse curvenya di sebut return zone dengan bentuk sigmoidal. Lebar return zone-nya tetap tetapi kedalaman sigmoidalnya yang berbeda-beda sesuai dengan perubahan fitting lensa. Sedangkan alignment zone nya disebut landing zone yang dipasang menyentuh midperipher kornea dan berfungsi untuk membantu sentrasi lensa. Metodenya biasanya dikenal dengan nama Corneal Refraktive Therapy.
Nah..rekan-rekan sekian dulu yah penjelasan mengenai desain lensa kontak orthokeratologi. Jika rekan-rekan ada informasi tambahan silahkan yah..monggo di share ilmunya biar kita sama-sama pinternya..heheheh..
Sumber :www.clspectrum.com dan www.paragoncrt.com
http://optikonline.info/2010/08/27/desain-lensa-kontak-orthokeratologi.html